BAHASA GAUL:
Dalam bahasa pergaulan
sehari-hari, kalangan yang mengakui adanya prularitas orientasi
seksual dikenal adanya penggunaan bahasa gaul yang secara budaya
dan pengucapan mempertunjukkan kreasi dan kegairahan mereka tanpa
menjadi terjebak pada penyeragaman bahasa yang membosankan, tanpa
daya pikir, anti-kenikmatan dan mentabukan seksual. Sebaliknya
mereka selalu aktif menciptakan keragaman, merangsang gairah-gairah
(pengucapan) oral mereka dan menciptakan literatur yang lebih
terbuka pada kesenangan mereka sendiri. Dan, walaupun secara permukaan
dimarjinalkan, secara aktif masyarakat yang menagungkan satu orientasi
seksual yang saklar menadopsinya dalam bahasa keseharian mereka
(contoh: "bencong"). Di bawah adalah penjelasan singkat
bagaimana kreativitas bahasa itu diekspresikan dalam keberagaman
cara clan metode modifikasi, diantaranya yang disebut sebagai
bahasa "binan".
- Bentuk modifikasi
regular
- Tambahan awalan "si"
Awalan "si" biasanya digunakan oleh waria di Jawa Timur.
Cara pengunaannya dengan menambahkan kata "si" pada
setiap kata yang digunakan dengan terlebih dahulu memenggal suku
kata pertama dari suku kata belakang, sehingga menghasilkan bunyi
baru. Syaratnya, setiap kata modifikasi tesebut harus berakhir
dengan huruf konsonan.
Cara pembentukan: lanang (jw. laki-laki) dipenggal menjadi
lan + ang. Kemudian pada kata lan di depannya diberi awalan
"si", sehingga menjadi kata silan, yaitu "si"
+ lan.
Contoh lain:
wedhok (jw. Perempuan) -> siwed ("si"+wed)
Makan -> simak("si" + mak)
Pergi -> siper("si" + per)
- Tambahan akhiran
"ong"
Penambahan akhiran "ong" adalah modifikasi sederhana
lain yang Bering juga digunakan. Penggunaannya dengan menyesuaikan/mengasimilasi
setiap suku kata terakhir dalam bahasa keseharian dengan bunyi
"ong" dan setiap huruf vokal suku kata pertama menjadi
bunyi e.
Cara pembentukan: Kata "banci", suku kata ban-
dirubah bunyinya menjadi "ben", sedangkan suku kata
akhir (ci) diasimilasikan dengan akhiran "ong"
sehingga menjadi kata "cong". Jika kedua suku kata
digabung (ben + cong) berubah menjadi kata "bencong".
Contoh lain:
laki -> lekong (la+ ki -> le +kong)
Makan -> mekong (ma + kan -> me + kong)
Homo -> hemong (ho + mo -> he + mong)
- Tambahan akhiran
"es" atau 'i'
Kaidah yang berlaku dalam penambahan akhiran "es" hampir
sama dengan modifikasi dengan akhiran "ong", kecuali
pada penambahan suku kata akhir disesuaikan dengan bunyi "es"
atau "i". Sehingga kata "band" bisa dimodifikasi
menjadi kata "bences" atau "benci".
Contoh lain:
lekes atau leki (la+ ki -> Le
+ kes atau ki) jalan -> jeles atau jeli
(Ja+ lan -> je + les atau li)
- Tambahan sisipan
"in"
Dibanding dengan modifikasi regular lainnya, sisipan "in"
sedikit lebih sulit dalam penerapannya. Dalam modifikasi dengan
sisipan "in", setiap suku kata dibagi diasimiliasikan
dengan sisipan bunyi "in".
Cara pembentukan:
Misalnya kata "banci", suku kata awal ban dipisahkan
dengan suku kata akhir ci, sehingga menjadi dua bunyi
yang benar-benar terpisah. Kata ban dan ci disisipi dengan kata
"in" sehingga berbunyi "binan cini'.
Contoh lain:
lesbi -> lines bini (les+ bi ->
lines+ bini) homo -> hino
mino (ho+ mo -> hino+ mino)
- Bentuk modifikasi
irregural
- Dengan memberi makna
beda pada istilah kata umum. Jenis kata plesetan ini dibentuk
dengan berbagai alasan antara lain bisa dikarenakan kesamaan
sifat atau karakter antara dua kata atau bisa dikarenakan semata-mata
oleh kesamaan bunyi. Untuk yang kata ganti yang digunakan karena
analogi karakter bisa ditemui antara lain pada kata-kata berikut
ini; "jeruk" (pemeras), "idealisme" (idiot),
"bawang" (bau), "cuci WC" (menjilati dubur,
analingus), "madonna° (matre), dll. Sedangkan plesetan
kesamaan bunyi antara lain; "sandang" (sana), "
"bandana" (bandit), "cumi-cumi" (berciuman)
dll.
- Plesetan Singkatan
kata-kata umum
Misalnya:
"BBC" atau "bibisi" (becak, tukang becak)
"mojokerto" (mojok)
"texas" (terminal)
"California" (pinggir kali)
dll.
- Kata-kata yang khusus,
istilah yang hanya ditemukan dalam kalangan gay. Kata-kata yang
dalam pengertian bahasa lain terdengar tidak ada makna.
Misal; "akika" (aku)
"diana" (dia)
"amir" (amat, sangat)
"cik pin" (pincang)
"la nina" (lanang)
"habibah" (habis)
"lucy-lucy" (elus-elus)
"metelek" (gay yang baru bercinta)
dll.
- Istilah=Istilah atau
Singkatan
Misal:
"ADIIYA" (Adu titit saja)
"BAKSO" (Badannya seksi sekali bo!)
"HANDOKO" (Hanya doyan kontol)
"P&G" (Penjong & gedong), "UMNO" (Urusan
Meong Number One) dll.
(Catatan: Aturan-aturan
tersebut tidak selalu berlaku secara terpilah-p1lah, kadang-kadang
dalam satu kata bisa terjadi merupakan dua cara plesetan sekaligus).